Pelindo Bertransformasi Tingkatkan Layanan di Sektor Pelabuhan Nonpeti kemas

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Aktivitas bongkar muat di pelabuhan nonpeti kemas. (dok. pelindo.co.id)

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) alias Pelindo terus berupaya meningkatkan jasa di sektor kepelabuhanan nonpeti kemas dengan melakukan transformasi besar-besaran.

Salah satu langkah strategis nan diambil adalah membagi Pelindo menjadi empat subholding.

Langkah ini diungkapkan oleh Direktur Utama PT Pelindo Multi Terminal Ary Henryanto dalam aktivitas Sharing Session: Transformasi Dunia Kepelabuhanan Nonpeti kemas Indonesia di Djakarta Theater, baru-baru ini.

Setelah merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) pada 1 Oktober 2021, Pelindo melakukan restrukturisasi besar-besaran.

Restrukturisasi ini mencakup pembentukan empat subholding, ialah Subholding Peti Kemas, Subholding Nonpeti Kemas, Subholding Marine, Equipment dan Port Services, serta Subholding Logistik dan Hinterland Development.

Restrukturisasi ini bermaksud untuk mengoptimalkan struktur organisasi dan meningkatkan efisiensi operasional.

Angkutan laut diidentifikasi sebagai moda pengangkutan kargo nan paling efisien dibandingkan dengan moda transportasi lainnya, efisiensi ini mencapai kurang lebih 11% lebih baik dibandingkan dengan kereta dan 51% dibandingkan dengan truk.

Menurut Ary Henryanto, salah satu konsentrasi PT Pelindo Multi Terminal adalah peningkatan kualitas jasa pelabuhan untuk menciptakan rantai logistik nan lebih efisien.

Tujuan utama PT Pelindo Multi Terminal adalah menekan biaya port dan cargo stay, meskipun setiap terminal mempunyai karakter tersendiri di masing-masing daerah.

Di sebagian besar terminal di Pulau Jawa berkarakter terminal bongkar (impor), sedangkan di luar Pulau Jawa sebagian besar berkarakter terminal muat.

PT Pelindo Multi Terminal berfokus pada standarisasi jasa di terminal bongkar muat, komersial di terminal, efisiensi pengelolaan terminal dan pertumbuhan laba. PT Pelindo Multi Terminal juga terbuka untuk menggandeng cargo owner sebagai mitra strategis guna meningkatkan produktivitas dan kapabilitas komersial.

Selaras dengan perihal tersebut, Guru Besar Bidang Risiko Logistik Maritim Intitus Teknologi Surabaya Saut Gurning nan juga menjadi narasumber dalam aktivitas ini menyatakan, perhatian Pelindo sudah cukup baik lantaran saat ini bumi mengarah ke nonpeti kemas.

“Saya kira perhatian Pelindo sudah cukup baik, mengingat saat ini bumi mengarah kepada nonpeti kemas,” katanya.

PT Pelindo Multi Terminal melalui transformasi besar dan positif, apalagi sebelum merger.

Transformasi ini terus diperbaiki dan disempurnakan setelah merger. Hal ini ditegaskan oleh Executive Vice President Port Handling and Stevedoring FKS Logistics Wiji Dewabroto nan juga menjadi salah satu narasumber di obrolan ini, sekaligus pengguna strategis Pelindo.

“Sebenarnya Pelindo, khususnya untuk PT Pelindo Multi Terminal itu sudah banyak melakukan perubahan nan sangat luar biasa, apalagi sebelum merger,” tegasnya.

Transformasi dengan modernisasi ini membikin produktivitas naik, dulu pembongkaran biji-bijian dan bungkil dalam satu hari hanya sekitar 5.000 ton sampai dengan 6.000 ton. Sekarang dengan modernisasi, sampai di 20.000 ton hingga 25.000 ton.

Wiji menambahkan, unik di terminal curah kering di Teluk Lamong juga sudah dioperasionalkan oleh PT Pelindo Multi Terminal, apalagi dia menyatakan Terminal curah kering ini merupakan terminal nan menangani curah kering (pangan dan pakan) paling modern di Asia Tenggara.

Khusus pakan kata Wiji juga sangat potensial, lantaran sejak ditransformasi PT Pelindo Multi Terminal, pertumbuhan pakan terus meningkat, setiap tahun kargo biji-bijian dan bungkil nan dibongkar mencapai 11 juta ton, nan tersebar di empat pelabuhan utama, ialah di Medan, Cilegon, Surabaya, dan Makassar.

Transformasi nan dilakukan oleh Pelindo dengan membentuk empat subholding menunjukkan komitmen perusahaan dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas jasa kepelabuhanan nonpeti kemas di Indonesia.

Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga mendukung visi Indonesia sebagai negara maritim nan berdaulat dan berkepanjangan sesuai dengan RPJPN 2025-2045. B